Author : HUSNUS UUSTidak ada komentar
Pagi itu, meski langit mulai menguning di sebelah timur, burung-burung yang enggan terbang. Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya, "Wahai umatku, kita sudah ada dalam kekuasaan ALLAH & cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan 2 perkara pada kalian, yakni Al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku & kelak orang-orang yang mencintaiku, maka akan masuk ke syurga bersama-sama dengankhu
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu bakar as-siddiq menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar bin khattab dadanya naik turun karena menahan nafas dan tangisanya, Usman bin affan menghela nafas panjang, sedangkan Ali bin abi thallib menundukkan kepalanya. "isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua." keluh hati semua sahabat kala itu"
Manusia yang tercinta itu, hampir selesai menjalankan tugasnya di dunia. Tanda-tandanya itu sudah semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketikan turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik kematian beliau. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah S.A.W. masih tertutup. sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
"Assalamualikum warahmatullahi wabarakatuh" terdengar seseorang dari luar rumah. Lalu, fatimah pun membuka pintu rumah.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
"maafkanlah saya, tetapi ayah saya sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
"Siapakah itu, wahai anakku?" tanya Rasul
"tak tahu, wahai ayahku. Sepertinya baru kali ini aku melihatnya." jawab Fatimah dengan tutur kata lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan pandanngan yang menggetarkan. seolah-seolah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah anakku, bahwa yang kau usir tadi adalah makhluk yang memisahkan pertemuan dunia yang tidak lain tidak bukan adalah malaikat izrail sang malaikat maut" kata Rasul.
Fatimah menahan ledakkan tangisnya karna umur ayahnya tidak lama lagi. Rasululullah pun menanyakan, mengapa jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah malaikat jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh Rasulullah S.A.W.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan ALLAH?"tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
"pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka terbuka untukmu" kata jibril.
namun, semua penjelasan jibril tidak membuat Rasul lega.
"Apakah engkau tidak senang mendengar kabar ini ya Rasul?"tanya jibril
" Kabarkan kepadaku bagaimanakah nasib umatku kelak setelah aku pergi!" perintah Rasul
"Jangan khawatir, wahai Rasul ALLAH, aku pernah mendengar ALLAH berfirman kepadaku 'kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," Kata Jibril.
Detik-detik kian dekat, saatnya izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan, ruh Rasulullah ditarik. nampak seluruh tubuh Rasulullah bermandikan keringat dan urat-urat lehernya menegang.
"Jibril,betapa sakitnya sakaratul maut ini" kata-kata Rasulullah dan kemudian terdengar suara desisan Rasulullah mengaduh.
Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk disampingnya hanya menundukkan kepalanya. Sedangkan jibril memalingkan muka.
"Jijikkah engaku melihatku, hingga engkau memalingkan muka?" tanya Rasul kepada jibril.
"Bukanya aku jijik melihatmu, tapi aku tidak sanggu melihat engkau direnggut ajal" kata jibril.
Beberapa detik kemudian terdengar Rasul memekik yang tidak tertahankanj lagi.
"ya ALLAH, dahsyat sekali maut yang kau berikan kepadaku. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku," pinta Rasul pada ALLAH.
Badan rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak. bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bin shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan orang-orang lemah diantaramu."
Sedangkan di luar rumah Rasul, mulai terdengar suara tangis bersahutan para sahabat yang saling berpelukan.
"Ummatii, ummatti, ummatii" dan berakhirlah hidup manusia yang paling mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. kini mampukah kita mencintai sepertinya? Allahuma sholi 'ala Muhammad wa barik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah S.A.W. kepada kita.
Posted On : Kamis, 22 Maret 2012Time : 02.08

